Oleh: Dr. Zelfia.
Dayadigital.id, Makassar – Hari ini, kopi tidak sekadar diminum, ia dirayakan. Ia hadir bukan hanya di meja, tetapi di linimasa, di percakapan, dan di gaya hidup. Di tangan anak muda, kopi menjelma bahasa pergaulan, simbol produktivitas, bahkan penanda identitas diri.
Secangkir kopi seolah menjadi syarat tak tertulis untuk memulai hari, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar merasa “hadir” di tengah ritme zaman yang serba cepat. Kafe pun tumbuh seperti ruang ibadah baru bagi kesibukan: tempat orang-orang datang dengan niat masing-masing bertemu, bekerja, berdiskusi, atau mencari makna di sela waktu yang terus berlari.
Di sana, kopi disajikan dengan cerita: biji yang dipilih, cara seduh yang diritualkan, dan nama-nama yang terdengar asing namun perlahan menjadi akrab di telinga. Kopi lalu tampil dalam foto-foto yang rapi, dengan busa yang indah dan cahaya yang diatur sedemikian rupa, seolah ingin mengatakan bahwa hidup, betapapun lelahnya, tetap bisa disajikan dengan estetika.
Namun jauh sebelum kopi menjadi gaya hidup, ibu telah lebih dulu meminumnya tanpa sadar bahwa suatu hari kebiasaan kecil itu akan menjadi metafora perjalanan hidup kami.
Kopi ibu tidak pernah estetik. Ia hitam, pahit, dan diseduh dengan cara paling sederhana. Tidak ada cangkir khusus, tidak ada waktu khusus. Kopi itu hadir di sela-sela kesibukan ibu mengurus rumah, menyiapkan hari untuk anak-anaknya, dan menyimpan lelahnya sendiri. Kopi bukan tentang tren, tetapi tentang bertahan.
Bagi ibu, kopi adalah jeda. Jeda dari tuntutan yang tak pernah selesai, dari peran-peran yang dijalani tanpa tepuk tangan, dan dari keharusan untuk selalu tampak kuat di hadapan dunia. Di antara hiruk pikuk pekerjaan rumah, kebutuhan anak-anak, dan beban hidup yang jarang dibagi, secangkir kopi memberi ibu ruang untuk bernapas sejenak. Ia bukan pelarian, melainkan perhentian kecil tempat ibu mengumpulkan kembali tenaganya sebelum kembali memberi. Dalam hening itu, ibu tidak sedang menjadi siapa-siapa: bukan pengasuh, bukan penopang, bukan penjaga. Ia hanya seorang manusia yang mengizinkan dirinya lelah, lalu bangkit kembali dengan cara paling sederhana.
Barangkali kopi ibu adalah bentuk istirahat lain bukan tidur. Ibu memilih kopi sebagai kesenangan kecilnya. Ia tidak banyak meminta pada hidup. Dalam pahit kopi itu, ada penerimaan. Dalam hangatnya, ada ketabahan.
Hingga suatu hari, hidup memberi ujian yang tak pernah kami duga.
Ibu terserang stroke. Peristiwanya datang tiba-tiba, tanpa aba-aba, seolah hidup menarik napas terlalu dalam lalu menjatuhkannya sekaligus. Dalam ingatan kami, momen itu berdekatan dengan waktu ibu meminum kopi sebuah kebiasaan yang selama ini terasa akrab dan menenangkan. Seketika, sesuatu yang biasa berubah menjadi kenangan yang mengguncang, mengajarkan kami bahwa hidup dapat berbelok kapan saja, bahkan dari hal-hal yang tampak paling sederhana.
Bukan kopi yang kami salahkan, sebab kami tahu penyakit tidak selalu lahir dari sebab yang kasatmata. Namun momen itu menjadi penanda betapa rapuhnya manusia. Betapa tipis jarak antara sehat dan sakit, antara kuat dan runtuh. Dalam satu waktu yang singkat, keyakinan kami tentang kestabilan hidup goyah, dan kami dipaksa memahami bahwa tubuh memiliki batas yang tak selalu bisa dinegosiasikan. Sejak saat itu, kami belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, dan bahwa berserah diri bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan paling jujur. Saat itulah kami benar-benar memahami firman Allah:
“Dan Allah menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah kembali dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54)
Ibu yang selama ini kami kenal kuat, ternyata juga rapuh. Tubuhnya tidak lagi patuh pada kehendaknya sendiri. Kata-kata tidak selalu keluar utuh. Langkah-langkahnya melambat. Dalam keterbatasan itu, kami melihat sisi ibu yang selama ini tersembunyi: manusiawi, rentan, dan membutuhkan. Dan kami, anak-anaknya, perlahan belajar bahwa waktu bersama orang tua bukan sesuatu yang bisa ditunda, karena kesehatan dan usia tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.
Sejak hari itu, hidup ibu berubah. Begitu pula cara kami memandangnya. Kami tidak lagi hanya melihat ibu sebagai sosok yang memberi tanpa henti, tetapi sebagai amanah yang harus dijaga. Perhatian kami menjadi lebih pelan, doa kami lebih sering, dan kebersamaan kami terasa lebih bermakna seolah setiap detik kini mengandung nilai yang tak lagi boleh disia-siakan.
Namun ada satu hal yang tidak sepenuhnya hilang: kopi.
Kopi tidak lagi diminum seperti dulu. Tidak sesering dulu. Tidak sebebas dulu. Tapi kopi tetap ada. Ia hadir sebagai “booster” kecil bukan untuk memacu tubuh, melainkan untuk menguatkan jiwa. Seolah ibu ingin berkata bahwa meski hidup membatasi, harapan tidak harus padam.
Dalam keterbatasan itu, saya melihat satu bentuk syukur yang sunyi. Syukur yang tidak selalu diucapkan, tetapi dijalani. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Ibu bersyukur bukan dengan banyak kata, melainkan dengan cara menerima hidup apa adanya dan tetap menemukan alasan untuk tersenyum. Bahkan dari secangkir kopi yang kini tak lagi sama. Diusianya tujuh puluh tahun. Usia yang sering disebut sebagai senja. Perannya tidak mengecil meski tubuhnya menua. Ibu tetap menjadi pusat pulang, tempat doa bermuara, dan sumber nilai yang terus hidup dalam langkah anak-anaknya.
Dari ibu, kami belajar bahwa peran tidak selalu diukur dari tenaga, tetapi dari keteladanan. Bahwa mendidik tidak selalu dengan nasihat panjang, tetapi dengan cara hidup yang dijalani dengan ikhlas.Tentang kesabaran. Tentang menerima takdir tanpa kehilangan harapan. Tentang menikmati kebahagiaan kecil sebagai bentuk syukur yang paling jujur.
Di tengah riuh budaya kopi hari ini, saya sering teringat ibu. Anak-anak muda duduk lama di kafe, memegang kopi sambil mengejar mimpi dan tenggat waktu. Saya tidak melihat itu sebagai sesuatu yang keliru. Hanya saja, kopi ibu mengajarkan makna yang berbeda.
Bahwa hidup tidak selalu berkejaran, mungkin kita perlu berhenti sejenak, menghela napas, dan menerima. Bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ibu menjalani ayat itu tanpa pernah mengutipnya. Dalam diam, dalam sabar, pada secangkir kopi yang kini menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya.
Kini, setiap kali saya meminum kopi, rasanya tak lagi sama. Di dalamnya ada ingatan, ada doa, ada waktu yang tak bisa diulang. Secangkir kopi menjadi jembatan lintas generasi antara tren hari ini dan kesederhanaan masa lalu. Antara saya, dan ibu.
Dan barangkali, itulah warisan hening namun paling menguatkan yang ibu tinggalkan:
bahwa hidup, seberat apa pun, selalu bisa dijalani dengan Syukur bahkan dari hal paling sederhana, seperti secangkir kopi.(selamat untuk semua ibu yang menjalani perannya dengan cara yang sederhana).

