Menepi dari Distraksi Digital, Mahasiswi UMI Temukan Ruang Refleksi di Padang Lampe

Dayadigital.id, Makassar — Mahasiswi Universitas Muslim Indonesia mengikuti kegiatan Pencerahan Qalbu Gelombang 7 yang dimulai secara online pada 1 Juni 2026. Kegiatan hari pertama diisi dengan pembukaan serta penyampaian beberapa materi awal sebelum peserta melanjutkan kegiatan secara langsung di Pesantren Darul Mukhlisin UMI Padang Lampe, Kabupaten Pangkep, pada 2 Juni 2026. Program ini berlangsung selama bulan Juni 2026 dan diikuti oleh mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI.

Kegiatan yang diawali secara daring tersebut menjadi pintu masuk sebelum peserta menjalani pembinaan langsung di lingkungan pesantren. Setelah pembukaan dan materi awal melalui platform online, mahasiswi kemudian berangkat ke Padang Lampe untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disusun selama satu bulan.

Setibanya di lokasi, peserta mulai mengikuti aktivitas dengan jadwal yang lebih teratur dibandingkan rutinitas kampus sehari-hari. Kegiatan berlangsung dari pagi hingga malam dan mencakup pembinaan, penyampaian materi, salat berjamaah, tadarus, kajian keagamaan, dzikir, serta aktivitas kebersamaan antar peserta.

Dalam keseharian tersebut, penggunaan ponsel dan media sosial tidak sepenuhnya dihilangkan, namun tidak lagi menjadi pusat perhatian utama. Suasana kegiatan yang padat membuat peserta lebih banyak terlibat dalam aktivitas langsung serta interaksi dengan sesama mahasiswi.

Salah satu aktivitas yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan adalah pembentukan halaqah untuk khatam Al-Qur’an. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswi duduk bersama dalam kelompok kecil untuk membaca dan menyelesaikan bacaan Al-Qur’an secara terarah di lingkungan pesantren.

Berdasarkan pengamatan pada 23 Juni 2026, terlihat para peserta lebih sering berjalan bersama menuju lokasi kegiatan, mengikuti arahan pembina, dan berdiskusi dengan teman setelah agenda selesai. Aktivitas tersebut menunjukkan adanya pergeseran kebiasaan dari ketergantungan pada layar ponsel menjadi interaksi langsung di lapangan.

Salah satu peserta, Putri Zaniyah Azisah, mengaku adanya perubahan dalam cara mengelola waktu selama mengikuti kegiatan. Ia menyebut bahwa jadwal yang padat membuatnya lebih fokus dan tidak terlalu sering terdistraksi oleh penggunaan ponsel.

“Di kampus biasanya kalau ada waktu kosong saya langsung buka HP. Tapi di Padang Lampe kegiatannya sudah terjadwal dari pagi sampai malam, jadi saya lebih bisa mengontrol diri. Bukan berarti tidak pakai HP, tapi saya jadi lebih tahu kapan harus fokus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pembinaan Iman dan Dzikir, H. Muhammad Yunus Anwar, Lc., M.Ag, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membentuk kedisiplinan ibadah, kedisiplinan belajar, serta memperkuat komunikasi antar mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda. Menurutnya, perbedaan tersebut bukan untuk diseragamkan, melainkan untuk saling melengkapi dalam proses pembinaan.

Ia juga menegaskan bahwa sistem jadwal yang diterapkan menjadi sarana evaluasi kedisiplinan mahasiswa. Peserta yang tidak disiplin akan diberikan teguran, dan jika berulang dapat diminta mengulang kembali proses Pencerahan Qalbu. Hal ini menjadi bagian dari pembinaan yang terus ditekankan oleh para pembina.

Selain itu, ia menyoroti tantangan penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa. Menurutnya, distraksi digital dapat terjadi di berbagai situasi, sehingga kegiatan di Padang Lampe menjadi ruang untuk melihat sejauh mana peserta mampu mengelola fokus dalam kegiatan maupun kehidupan sehari-hari.

Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan tidak berhenti setelah program selesai. Peserta diharapkan dapat membawa kebiasaan disiplin dan pola hidup yang lebih terarah ke lingkungan kampus maupun kehidupan setelahnya.

“Yang didapat di Padang Lampe diharapkan terus dilanjutkan, karena ini bukan hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk masa depan, fiddunya wal akhirat,” ujarnya.

Kegiatan Pencerahan Qalbu Gelombang 7 di Padang Lampe menunjukkan bahwa proses pembelajaran mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Dalam satu bulan pelaksanaan, peserta menjalani pengalaman hidup bersama, kedisiplinan waktu, serta pembatasan distraksi digital yang secara tidak langsung membentuk kebiasaan baru dalam mengelola fokus dan interaksi sosial.

Setelah kegiatan ini berakhir, mahasiswi diharapkan mampu menjaga keseimbangan dalam penggunaan teknologi serta membawa nilai-nilai kedisiplinan dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari di kampus maupun masyarakat.

 

Penulis : Syifa Zalsabilah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FSIKP UMI

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *