Dayadigital.id, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Riyono menyatakan bahwa target swasembada gula pada 2028 perlu diwujudkan melalui kebijakan dan anggaran yang berpihak kepada petani. Menurutnya, keberhasilan swasembada gula sangat bergantung pada peningkatan kesejahteraan petani tebu dan pembenahan sektor produksi nasional.
Ia menjelaskan, target swasembada gula 2028 sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Konsumsi Tahun 2028 dan Swasembada Gula Industri Tahun 2030 yang diterbitkan pada 16 Juni 2023.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2023 Indonesia mengimpor 5,069 juta ton gula senilai US$2,88 miliar atau sekitar Rp44,33 triliun. Impor tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi maupun gula industri dalam bentuk gula kristal mentah karena pasokan dalam negeri belum mencukupi.
Sementara itu, data BPS tahun 2022 mencatat terdapat 17 negara pemasok gula ke Indonesia, dengan empat pemasok terbesar yakni Thailand, India, Brasil, dan Australia. “Cita – cita Presiden untuk Swasembada gula harus diwujudkan dalam politik kebijakan dan anggaran yang berpihak kepada petani dan rakyat,” papar Riyono dalam rilisnya yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Selasa, (21/7/2026).
Riyono mengingatkan bahwa Indonesia sebelumnya juga pernah menargetkan swasembada gula pada 2020, namun belum berhasil tercapai. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah semakin berkurangnya minat petani menanam tebu karena dinilai kurang menguntungkan.
Ia mengatakan, berdasarkan berbagai kunjungan dan pertemuan bersama petani serta pabrik gula, persoalan yang disampaikan masih berkaitan dengan rendahnya keuntungan usaha tebu dan harapan terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
“Kuncinya ada di bibit tebu yang berkualitas dengan hasil rendemen minimal 8 – 10% dan hasil tahunan 90 juta ton/tahun. Saat ini rerata rendemen baru 7% dengan hasil 70 juta ton gula/ton. Jika kita bisa dapat 5 juta ton per tahun maka kita bisa swasembada, kebutuhan tahunan 3 juta ton,” tambah Riyono.
Selain peningkatan produktivitas tebu, Riyono juga menilai revitalisasi pabrik gula menjadi faktor penting dalam mencapai target swasembada. Menurutnya, banyak pabrik gula yang sudah tidak kompetitif karena usia operasional yang telah mendekati satu abad sehingga kurang efisien dari sisi produksi.
Ia juga menyoroti rencana penutupan 23 dari 45 pabrik gula yang dinilai menimbulkan keresahan bagi para pekerja, sementara rencana pembangunan 28 pabrik gula baru masih berada pada tahap perencanaan.
“Swasembada kuncinya adalah Petani, jadikan petani tebu senang menanam dan beli dengan harga bagus, maka mereka akan sejahtera. Swasembada bukan hanya soal jumlah dan ketersediaan, swasembada adalah kesejahteraan yang sistematis,” tutup Riyono.

