apt. Abd. Malik, S.Farm, M.Sc, P.hD, Nahkoda Baru KAHMI UMI: Dari Laboratorium Farmasi ke Panggung Pengabdian Umat

Dayadigital.id, Makassar – Di tengah hiruk-pikuk pelantikan pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Muslim Indonesia (KAHMI UMI) 2026=2031 di Gedung Pascasarjana UMI, Kamis (5/11/2026), ada satu sosok yang menjadi pusat perhatian.

Ia bukan politisi yang gemar berpidato berapi-api. Ia bukan pula pengusaha yang datang dengan gemerlap kekayaan. Ia adalah seorang ilmuwan farmasi yang terbiasa bekerja dalam sunyi laboratorium, yang juga Dekan Farmasi 2022-2026 yang kini dipercaya menakhodai organisasi Korps Alumni Mahasiswa Islam periode 2026- 2031 di kampus Islam tertua dan terbesar di Indonesia Timur.

Dialah apt. Abd. Malik, S.Farm.,M.Sc., Ph.D. Ketua Umum KAHMI UMI yang baru dilantik.

Bagi yang mengenalnya, penunjukan Malik bukanlah kejutan. Ia adalah potret langka dari gabungan tiga dunia: akademisi, profesional farmasi, dan aktivis keumatan. Gelar apoteker, magister sains, hingga doktor yang disandangnya bukan sekadar deretan gelar akademik. Itu adalah jejak panjang dari dari UMI, UGM dan Universitas Copenhagen Denmark, seseorang yang percaya bahwa ilmu harus berbuah manfaat.

“Jabatan ini bukan kehormatan, ini amanah. KAHMI bukan tempat mencari nama, tapi tempat memberi makna,” ujar Malik dalam sambutannya yang singkat namun menghentak, disambut tepuk tangan sekitar ratusan peserta yang hadir dari kalangan alumni, akademisi, pemerintah, BAZNAS, organisasi masyarakat, dan dunia usaha.

Dari Obat untuk Tubuh, Menuju Obat untuk Bangsa.

Malik sering menganalogikan perannya sebagai apoteker dengan perannya sebagai pemimpin organisasi.

Seorang apoteker, kata dia, tidak boleh salah meracik obat. Satu miligram yang keliru bisa berdampak fatal. Demikian pula seorang pemimpin organisasi. Satu kebijakan yang keliru bisa membuat organisasi kehilangan arah.

“Saya terbiasa meneliti, menguji, dan memastikan. Dalam organisasi pun begitu. Kita tidak boleh bekerja dengan asumsi. Kita harus bekerja dengan data, dengan program yang terukur, dan dengan keikhlasan,” tuturnya.

Filosofi itulah yang kemudian ia tuangkan dalam visi kepemimpinannya: KAHMI UMI yang Berdaya, Berkolaborasi, dan Memberdayakan.

Di bawah nahkodanya, KAHMI UMI tidak ingin sekadar menjadi perkumpulan reuni dan nostalgia.

Malik ingin KAHMI UMI menjadi rumah gerakan. Rumah bagi alumni untuk kembali berkontribusi, rumah bagi mahasiswa untuk belajar kepemimpinan, dan rumah bagi masyarakat untuk merasakan manfaat nyata dari kehadiran alumni.

13 Bidang, Satu Tujuan: Berdayakan Kahmi untuk Umat.

Yang membuat kepemimpinan Malik berbeda adalah keseriusannya dalam merancang program. Ia tidak datang dengan janji-janji abstrak. Ia datang dengan peta jalan yang jelas: Program Prioritas 13 Bidang.

Ketiga belas bidang itu dirancang untuk menyentuh seluruh sisi kehidupan umat, dari pendidikan hingga ekonomi, dari hukum hingga budaya.

Pertama, Bidang Pendidikan dan Pelatihan. Malik menyiapkan program beasiswa, pelatihan kepemimpinan, dan upgrading skill bagi alumni dan kader. “Alumni UMI harus menjadi alumni yang unggul, bukan hanya lulus, tapi juga memimpin,” katanya.

Kedua, Bidang Penelitian dan Kerjasama. KAHMI UMI di bawah Malik akan mendorong riset terapan tentang zakat, filantropi, ekonomi umat, dan masalah sosial di Makassar. Kerjasama dengan BAZNAS, Pemkot Makassar, perguruan tinggi, dan lembaga riset akan diperkuat.

Ketiga, Bidang Kesehatan Umat dan Lingkungan. Sebagai apoteker, Malik menaruh perhatian khusus di bidang ini. Ia merancang bakti kesehatan gratis, edukasi obat dan pangan halal, serta gerakan lingkungan bersih dan sehat.

Keempat, Bidang Pengabdian kepada Masyarakat dan Pembinaan Umat. Ini adalah jantung gerakan. Pengajian, pembinaan masjid, dan pendampingan masyarakat di lorong-lorong Makassar menjadi prioritas.

Kelima, Bidang Advokasi dan Penegakan Hukum. KAHMI UMI akan hadir memberikan bantuan hukum bagi masyarakat kecil yang terzalimi. “Keadilan tidak boleh hanya milik yang mampu membayar pengacara,” tegas Malik.

Keenam, Bidang Bina Kemahasiswaan dan Olahraga. Malik percaya kaderisasi harus dimulai sejak mahasiswa. Ia menyiapkan mentoring, kompetisi, dan pembinaan olahraga sebagai sarana membangun karakter.

Ketujuh, Bidang Bisnis dan Kewirausahaan. Inilah yang paling ditunggu. Malik ingin alumni UMI tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja. Inkubator bisnis, pelatihan UMKM, dan akses permodalan akan dibuka.

Kedelapan, Bidang Kesejahteraan dan Pendayagunaan Organisasi. Organisasi harus mensejahterakan anggotanya. Koperasi alumni, dana solidaritas, dan database alumni akan dibangun.

Kesembilan, Bidang Seni dan Budaya. Malik meyakini dakwah juga bisa lewat seni. Musik, sastra, dan budaya Bugis-Makassar yang Islami akan dihidupkan.

Kesepuluh, Bidang Promosi dan Pemberdayaan Kader. Kader yang berprestasi akan dipromosikan dan diberi panggung.

Kesebelas, Bidang Hubungan Antar Lembaga. Jaringan KAHMI UMI akan diperluas ke pemerintah, BAZNAS, dunia usaha, dan organisasi masyarakat.

Kedua belas, Bidang Informasi dan Komunikasi. Di era digital, KAHMI UMI harus hadir di media sosial dengan konten yang mencerahkan, bukan memecah belah.

Ketiga belas, Bidang Penerbitan dan Publikasi. Buku, jurnal, dan majalah alumni akan diterbitkan sebagai warisan intelektual.

“13 bidang ini bukan sekadar struktur. Ini adalah 13 jalan untuk berkhidmat. Jika satu bidang bergerak, ia akan menggerakkan bidang lainnya,” ujar Malik.

Menyambung Diskusi Kebangsaan.

Pelantikan Malik dirangkaikan dengan Diskusi Kebangsaan bertema _“Peran KAHMI UMI dalam Penguatan Gerakan Zakat Menuju Makassar sebagai Kota Filantropi Nasional.”_ Bagi Malik, tema ini adalah panggilan pertama bagi kepemimpinannya.

Ia menyatakan komitmen penuh untuk menjadikan KAHMI UMI sebagai mitra strategis BAZNAS Kota Makassar dan Pemkot Makassar. Menurutnya, zakat adalah instrumen yang paling dekat dengan visi KAHMI: keadilan sosial dan pemberdayaan umat.

“Jika zakat dikelola dengan ilmu, dengan data, dan dengan amanah, Makassar bukan hanya akan menjadi Kota Filantropi, tapi juga kota yang masyarakatnya sejahtera secara spiritual dan material,” katanya.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang hadir sebagai keynote speaker, menyambut baik semangat baru ini. Ketua BAZNAS Kota Makassar, Dr. H. Usman Sofian, M.A., dan Guru Besar Ekonomi UMI, Prof. Dr. Mansyur Ramly, juga menegaskan bahwa kolaborasi dengan kepemimpinan baru KAHMI UMI adalah momentum yang tepat.

Nahkoda yang Rendah Hati.

Di balik program-program besar itu, Malik tetap tampil sebagai sosok yang sederhana. Ia lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Lebih suka bekerja daripada mengklaim.

Rekan-rekannya menggambarkannya sebagai pemimpin yang teliti, tenang, dan solutif. Ia tidak marah ketika dikritik, justru mencatat dan memperbaiki. Ia tidak silau dengan jabatan, justru merasa semakin berat tanggung jawabnya.

Kini, amanah itu telah berada di pundaknya. 13 bidang telah dirancang. Ratusan peserta telah menyaksikan pelantikannya, kota Makassar menunggu bukti.

Dari laboratorium farmasi, Abd. Malik kini menakhodai kapal besar bernama KAHMI Majelis Rayon UMI. Kapal itu tidak akan berlayar untuk dirinya sendiri. Ia akan berlayar bersama Puluhan Alumni pilihan dan kepengurusan untuk umat, untuk Makassar, dan untuk Indonesia.

Penulis : Dr. Abd Majid, M.Si.

Kord. Bidang Mahasisswa dan Olah Raga Kahmi UMI

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *