Dayadigital.id, Makassar – Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di antara hari-hari istimewa yang terdapat di dalamnya adalah 10 Muharram atau Hari Asyura, yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Pada hari tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa sebagai bentuk ibadah, rasa syukur, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam semangat itulah, Peserta Pencerahan Qalbu (PQ) Gelombang 7 turut menyemarakkan pelaksanaan Puasa Asyura sebagai bagian dari proses pembinaan spiritual dan perjalanan penyucian hati. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kesadaran ruhani, memperdalam rasa syukur, serta memperbaharui komitmen dalam menapaki jalan ketaatan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan besarnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Melalui ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, Allah menjanjikan pengampunan atas dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
Dalam perspektif tasawuf, puasa tidak hanya berfungsi sebagai ibadah fisik, tetapi juga sebagai latihan ruhani untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti kesombongan, riya, hasad, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah melahirkan ketakwaan. Dalam program Pencerahan Qalbu, ketakwaan menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT, lebih jujur kepada diri sendiri, serta lebih peduli terhadap sesama.
Momentum Puasa Asyura juga dimanfaatkan oleh peserta PQ Gelombang 7 untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Melalui perenungan yang mendalam, peserta diajak mengevaluasi hubungan mereka dengan Allah SWT, keluarga, lingkungan sosial, serta amanah yang diemban dalam kehidupan sehari-hari.
Muhasabah tersebut diharapkan mampu membangkitkan kesadaran spiritual yang lebih kuat, karena kesadaran merupakan pintu awal menuju perubahan dan perbaikan diri yang berkelanjutan.
Selain itu, Hari Asyura juga mengingatkan umat Islam pada berbagai peristiwa agung yang dialami para nabi, khususnya keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kezaliman Fir’aun. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa pertolongan Allah SWT senantiasa hadir bagi mereka yang beriman, bersabar, dan bertawakal.
Peserta Pencerahan Qalbu diajak memahami bahwa setiap manusia memiliki “Fir’aun” dalam dirinya, yaitu hawa nafsu yang berpotensi menguasai hati dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebaikan. Melalui puasa, dominasi hawa nafsu dapat dikendalikan sehingga cahaya iman semakin bersinar dalam qalbu.
Pencerahan Qalbu menegaskan bahwa proses pembinaan spiritual tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Sebaliknya, ia merupakan perjalanan panjang menuju kedekatan dengan Allah SWT yang harus terus dijaga melalui ibadah, akhlak mulia, dan keistiqamahan dalam berbuat baik.
Melalui momentum Puasa Asyura 10 Muharram, seluruh peserta diharapkan memperoleh keberkahan, pengampunan, ketenangan jiwa, serta kemudahan dalam menapaki jalan para hamba yang dicintai Allah SWT.
“Pencerahan Qalbu sejatinya bukan sekadar melihat cahaya, tetapi menjadi cahaya yang menerangi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dengan akhlak yang mulia serta kedekatan kepada Allah SWT.”
Semoga pelaksanaan Puasa Asyura menjadi momentum untuk memperbaharui hubungan dengan Allah SWT, memperkuat ketakwaan, serta menghadirkan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan memberikan hidayah kepada kita semua.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Oleh: H. Muhammad Yunus Anwar, Lc,M.Ag.
Kampus Pembinaan Iman dan Zikir Pesantren Unggulan UMI Padanglampe Pangkep

