Belajar Bercerita lewat Video: Dosen UMI Latih 31 Staf PLTU Barru Produksi Konten CSR Bernilai Islam

Dayadigital.id, Barru – Di sebuah ruang pelatihan di lingkungan PT PLN Nusantara Power Unit PLTU Barru, puluhan pegawai duduk berkelompok dengan ponsel di tangan. Hari itu mereka tidak sedang membahas turbin, boiler, atau jadwal pemeliharaan.

Mereka belajar menyusun skrip, menentukan sudut pengambilan gambar, dan memikirkan cara menyampaikan program tanggung jawab sosial perusahaan agar benar-benar sampai ke hati warga di sekitar mereka.

Suasana itu berlangsung selama tiga hari, 5 hingga 7 Oktober 2026, dalam pelatihan produksi video edukasi Public Relations yang diselenggarakan tim dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internal UMI, dengan tema implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) berbasis nilai Islam.

Berawal dari jarak antara program dan warga.

Gagasan kegiatan ini lahir dari temuan sederhana tetapi penting. Setelah melakukan survei kebutuhan terhadap staf Humas, diskusi kelompok terarah dengan manajemen, dan wawancara dengan tokoh masyarakat serta tokoh agama Kabupaten Barru, tim pengabdi menemukan bahwa pesan program CSR PLTU Barru belum sepenuhnya sampai kepada masyarakat.

Konten video yang dihasilkan selama ini cenderung satu arah, dipenuhi istilah teknis, dan belum mencerminkan nilai keislaman maupun kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Barru.

Angkanya cukup gamblang. Rata-rata skor kompetensi public relations tim hanya 51,6 dari 100, di bawah standar minimal 70. Video yang pernah dibuat umumnya berdurasi kurang dari 90 detik, tanpa narasi CSR yang utuh, dan diunggah tanpa strategi distribusi. Dalam dua tahun terakhir, tak satu pun konten yang memuat nilai Islam seperti sidq (kejujuran), amanah (dapat dipercaya), ‘adl (keadilan), dan maslahah (kemaslahatan bersama).

Padahal, Barru adalah wilayah dengan masyarakat yang religius dan menjunjung adat Bugis-Makassar, tempat tokoh agama dan tokoh adat memegang peran besar dalam membentuk opini. Pesan perusahaan yang terdengar birokratis dan jauh dari nilai setempat cenderung sulit diterima.

Tiga hari, tujuh modul, 31 peserta.

Menjawab kebutuhan itu, tim dosen merancang pelatihan dengan pendekatan participatory action research, yang memadukan pemaparan konsep dan praktik langsung dengan komposisi 70 persen teori dan 30 persen praktik. Peserta yang hadir melampaui rencana awal, yakni 31 orang dari 13 unit kerja, mulai dari Operasi, RCBM, HAR, K3L, Keuangan, SDM, hingga Humas.

Kehadiran peserta lintas unit membuat pelatihan ini menjadi ruang bertukar pandang tentang bagaimana seluruh bagian perusahaan ikut menjadi wajah PLTU di mata masyarakat.

Perjalanan belajar dimulai dari fondasi nilai. Pada dua modul pertama, peserta diajak memahami hubungan antara CSR, public relations, dan etika komunikasi Islam melalui Model SAAM, lalu menggali kearifan lokal siri’ na pacce, sipakatau, dan sipakalebbi sebagai landasan narasi.

Dari sana, mereka beranjak ke keterampilan teknis: menyusun cerita dengan struktur Problem–Solution–Impact, mengatur kamera ponsel, mewawancarai narasumber, mengambil B-roll, menyunting video, hingga mengelola distribusi konten dengan tetap menghormati waktu ibadah dan menanggapi komentar publik dengan santun. Modul terakhir menutup rangkaian dengan penyusunan SOP dan produksi video mandiri.

Puncaknya terjadi pada hari ketiga. Peserta turun langsung ke lapangan, mendampingi rekan-rekan PLTU Barru yang menjalankan kegiatan CSR di sekitar wilayah kantor. Di sanalah teori bertemu kenyataan: kamera diarahkan pada kegiatan dan warga yang menjadi alasan program CSR itu ada, dengan tetap menjaga martabat dan sudut pandang masyarakat. Proyek akhir berupa video edukasi CSR kemudian dikerjakan secara berkelompok dengan pendampingan fasilitator.

Yang paling berkesan: dikoreksi langsung.

Setelah pelatihan, tim pengabdi mengumpulkan umpan balik dari para peserta. Hasilnya menggembirakan. Indeks kepuasan keseluruhan mencapai 85,1 persen dengan kategori Sangat Puas, rata-rata skor 4,26 dari 5. Sebanyak 96,8 persen peserta merasa keterampilan produksi videonya meningkat, dan 80,6 persen mengaku percaya diri memproduksi video secara mandiri. Padahal, sebelum pelatihan, sebagian besar peserta (71 persen) belum pernah atau hanya jarang membuat video.

Dari sisi nilai, 96,8 persen peserta memahami keempat prinsip SAAM dan mampu memberi contoh penerapannya, 93,5 persen mampu menerjemahkan nilai lokal menjadi pesan, simbol, bahasa, dan estetika visual yang otentik, dan 90,3 persen berkomitmen menerapkannya pada setiap konten yang mereka buat. Beberapa peserta bahkan menyebut proyek akhir dan pendampingan langsung sebagai hal paling berkesan karena kekurangan karya mereka dapat dikoreksi saat itu juga.

Tentu ada catatan untuk perbaikan. Peserta menilai durasi pelatihan terlalu singkat dan menginginkan porsi praktik yang lebih besar, terutama untuk editing, yang paling banyak dipilih sebagai modul yang perlu diperdalam.

Keterbatasan perangkat, daya baterai, dan cuaca di lapangan juga menjadi kendala yang dicatat tim untuk pelaksanaan berikutnya, termasuk rencana membagi pelatihan lanjutan menjadi dua gelombang.

Meninggalkan bekal yang bisa terus dipakai.

Pelatihan ini tidak berhenti pada sertifikat kehadiran. Tim pengabdi menyerahkan buku pelatihan tujuh bab yang dilengkapi templat, checklist, dan formulir produksi, serta draf SOP Komunikasi CSR Berbasis Nilai Islam kepada PLTU Barru sebagai pegangan kerja jangka panjang.

Dari proyek akhir, lahir sedikitnya tiga video edukasi CSR karya peserta. Modul pelatihan juga telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), sementara artikel ilmiah hasil kegiatan telah diajukan ke Jurnal Balireso milik LPkM UMI.

Agar manfaatnya bertahan, tim merekomendasikan PLTU Barru meresmikan SOP, menunjuk Humas Champion sebagai penjaga praktik baru, dan menjalankan rencana tindak lanjut 30-60-90 hari. Hari ke-30, SOP versi 1.0 disosialisasikan. Hari ke-60, satu video nyata diproduksi dengan seluruh tahap SOP.

Hari ke-90, dilakukan audit internal pertama untuk menyempurnakan SOP. Tim pengabdi juga merencanakan evaluasi lanjutan pada bulan ketiga dan keenam untuk melihat apakah perubahan di dalam perusahaan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Barru.

Langkah kecil, harapan besar.

Kegiatan ini sejalan dengan Asta Cita ke-4, ke-5, dan ke-6 serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 4, 8, 11, dan 17, melalui penguatan sumber daya manusia, hilirisasi hasil kajian perguruan tinggi, dan hubungan yang lebih harmonis antara perusahaan dan komunitas desa di sekitarnya.

Tim pelaksana berharap model pelatihan ini dapat direplikasi ke perusahaan energi lain di Sulawesi Selatan, sehingga komunikasi CSR yang jujur, dialogis, dan berakar pada budaya lokal semakin banyak ditemui.

Pelatihan ini dilaksanakan oleh Muhammad Ainun Mukminin, A.Md., S.I.Kom., M.I.Kom. (Ketua) dan Abd. Rahim, S.Kom.I., M.Sos. (Anggota), dengan dukungan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Gifranadia dan Alya Amara.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *