15 Ribu Pelajar Se-Provinsi Jambi Deklarasi Tolak IRET, TCC Dan Bullying

Dayadigital.id, Jambi — Densus 88 AT Polri melalui Satgaswil Jambi berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jambi menggelar kegiatan Sosialisasi dan Deklarasi Akbar Tolak Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme (IRET), True Crime Community (TCC), dan Perundungan (Bullying) yang dihadiri sekitar 15.000 pelajar SMA, SMK, MA, SMP dan MTs Negeri/Swasta se-Provinsi Jambi, terdiri dari 7.000 peserta secara luring dan 8.000 peserta secara daring melalui live streaming dan YouTube. Kegiatan berlangsung di GOR Kota Baru pada Kamis (7/5/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kasatgaswil Jambi Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Beri Diatra, S.I.K., M.H., CPHR., CBA., CHRA bersama jajaran personel Satgaswil Jambi, serta dihadiri sejumlah stakeholder penting, di antaranya Gubernur Jambi Dr. Alharis, S.Sos., M.H., Wakil Gubernur Jambi Drs. H. Abdullah Sani, M.Pd.I., Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno Halomoan Siregar, S.I.K., M.H., Wakil I DPRD Provinsi Jambi H. Ivan Wirata, ST., MM., MT., Kadisdik Provinsi Jambi M. Umar MY, S.E., M.M., unsur Korem 042/Gapu, BINDA Jambi, BNNP Jambi, para kepala sekolah, serta ribuan pelajar dari seluruh wilayah Provinsi Jambi.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi M. Umar MY, S.E., M.M. menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi strategis antara Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dengan Satgaswil Jambi Densus 88 AT Polri guna memperkuat ketahanan generasi muda terhadap ancaman paham menyimpang dan kekerasan digital.

Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno Halomoan Siregar, S.I.K., M.H. menegaskan bahwa fenomena keterpaparan anak terhadap paham radikalisme kini semakin mengkhawatirkan karena banyak menyasar melalui media sosial dan komunitas digital seperti TCC.

“Bijak dalam penggunaan handphone dan media sosial harus menjadi budaya generasi muda. Gunakan teknologi sebagai sarana belajar, kreativitas dan membangun masa depan, bukan menjadi pintu masuk paham radikal maupun perilaku menyimpang,” ujar Kapolda Jambi.

Sementara itu, Gubernur Jambi Dr. Alharis, S.Sos., M.H. mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut sebagai langkah nyata dalam melindungi generasi muda Jambi dari ancaman IRET, TCC dan bullying.

“Anak-anak adalah aset masa depan bangsa. Karena itu kita harus bersama-sama menjaga mereka dari pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan dan persatuan bangsa,” ungkap Gubernur Jambi saat membuka kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, para pelajar juga melaksanakan Deklarasi Bersama Pelajar Se-Provinsi Jambi yang berisi komitmen menolak intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, TCC, bullying, serta berbagai bentuk komunitas kriminal dan perilaku menyimpang di lingkungan pendidikan.

Materi kegiatan disampaikan oleh sejumlah narasumber, di antaranya Kasatgaswil Jambi Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Beri Diatra, S.I.K., M.H., CPHR., CBA., CHRA, Kepala UPTD PPA Provinsi Jambi Asi Noprini, S.Psi., M.H., Peneliti TCC Universitas Indonesia Sabita Afifa Khoirunnisa, S.IP., influencer Jambi Debi Ceper, serta mitra deradikalisasi sekaligus eks napiter Giovanov Rafli.

Peneliti TCC Universitas Indonesia Sabita Afifa Khoirunnisa, S.IP. menjelaskan bahwa True Crime Community (TCC) merupakan komunitas daring yang banyak membahas kriminalitas dan kekerasan secara berlebihan sehingga berpotensi memengaruhi pola pikir remaja. Menurutnya, anak-anak sering kali tidak menyadari bahwa konten yang mereka konsumsi dapat membentuk ketertarikan terhadap kekerasan dan perilaku menyimpang.

Sementara itu, Debi Ceper membagikan pengalaman pribadinya sebagai korban bullying dan mengajak para pelajar untuk saling menghargai dalam perbedaan.

“Jangan pernah membully orang lain karena kita tidak pernah tahu perjuangan dan masa depan seseorang. Mari saling mendukung dan memotivasi dalam hal-hal positif,” ujarnya.

Kasatgaswil Jambi Densus 88 AT Polri Kombes Pol. Beri Diatra, S.I.K., M.H., CPHR., CBA., CHRA dalam materinya menegaskan bahwa paham IRET, TCC dan bullying saling berkaitan sebagai ancaman serius terhadap generasi muda. Ia juga menyoroti pentingnya peran guru dan orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget, media sosial, serta game online.

“Paham radikal masuk secara perlahan melalui ruang digital. Karena itu pengawasan, komunikasi keluarga, dan literasi digital menjadi benteng utama untuk melindungi anak-anak kita,” tegasnya.

Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif bersama para pelajar dan narasumber. Sebagai tindak lanjut, Satgaswil Jambi bersama instansi terkait akan terus melakukan sinergi dan monitoring berkelanjutan di lingkungan pendidikan guna memperkuat pemahaman kebangsaan, moderasi, serta pencegahan penyebaran paham IRET, TCC dan bullying di Provinsi Jambi.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *